Jumat, 01 Januari 2016

Tak Perlu Mengeluh Atas Segala Kekurangan, Hanya Perlu Disyukuri dan Berbahagialah




Kisah ini bermula ketika saudara perempuanku mendapat hadiah dari Tuhan yang sangat luar biasa. Hal itu karena ia tahu bahwa perutnya tak lagi kosong, didalam perutnya ada amanah Tuhan yang harus ia jaga baik-baik dengan penuh keikhlasan, rasa syukur dan tanggung jawab yang besar. Betapa bisa aku rasakan bahwa hal itu sangat membuat ia bahagia. Bagaimana tidak, itu adalah pertanda bahwa Tuhan telah mempercayainya untuk memegang amanah yang sangat berharga.
Hari demi hari berlalu. Doa dan segala harapan pastinya masih senantiasa ia panjatkan kepada Sang pemilik alam. Senyuman dan rasa bahagia masih terpancar jelas menghiasi wajahnya, semua itu tak lain karena bayi yang ada dalam kandungannya.
Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan bagi saudaraku, karena tepat pada hari itu adalah pemeriksaan kandungannya yang pertama diusia enam bulan. Dengan wajah sangat segar ia langkahkan kakinya bersama sang suami untuk pergi ke dokter kandungan. Tak ada firasat apapun yang ia rasakan sebelum berangkat, yang ada hanya rasa bahagia dimana untuk pertama kalinya ia memeriksakan janin yang ada didalam perutnya ke rumah sakit.
Hancur. Ya, itulah satu kata yang mungkin dirasakan oleh saudara perempuanku, tangisnya pecah tak terbendung lagi saat ia mengetahui bahwa sang hero dalam perutnya harus secepatnya dikeluarkan. Semua itu karena penyakit yang ada didalam tubuh saudaraku, yang tak memungkinkan jika sang bayi terus berada dalam perutnya. Karena semua itu akan membahayakan kedua-duanya, ibunya dan anaknya.
Proses persalinan pun usai, bayi itu telah lahir kedunia walau dengan segala ketidak normalan yang ada. Aku betul-betul tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu dan ayahnya, tangisnya pecah seketika melihat keadaan sang buah hati. Tapi dalam matanya masih sangat jelas terlihat betapa besar harapannya pada tuhan semoga kelak ia bisa kuat dalam ketidak kuatannya, dan ia bisa sempurna dalam ketidak sempurnaannya.
Hari demi haripun berlalu. Tak terasa tahun demi tahunpun telah dilewati bersama bayi saudara perempuanku yang ia beri nama putra. Tak tega. Ya, mungkin itulah dua kata yang sering aku ucapkan dalam hati sembari berbisik pada tuhan, sebesar apakah dosanya hingga ia harus menanggung beban seberat itu. Jujur, sering kali rasa malu menghinggapi diriku saat aku bercermin padanya. Disaat ia yang memiliki ketidak sempurnaan masih senantiasa melengkungkan bibirnya, aku masih sering tak bersyukur atas segala anugerah yang telah Tuhan beri.
Sudah enam tahun lebih Putra berada diatas dunia, tapi perkembangan fisiknya memang tak seperti anak lainnya. Diusia enam tahun ini ia masih sulit untuk bicara, mengerti ini itupun sepertinya sangat sulit. Tapi senyumnya tak pernah hilang menghiasi wajahnya, hal itu yang sampai saat ini menjadi alasan bahwa dengan ketidak sempurnaan fisiknya ia masih dapat membuat orang disekitarnya bahagia.
Akan tetapi, dibalik kisah senyuman putra yang tiada henti menghiasi wajahnya. Kisah sedihnya pun tak usah ditanya. Kadang disaat anak seusianya bermain dengan riang, dan berteriak-teriak dengan penuh keramaian, yang bisa ia lakukan hanya melamun melihat tawa mereka. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas sering kulihat gurat kesedihan diwajahnya seperti mengisyaratkan bahwa ia bertanya-tanya mengapa aku tidak sama seperti mereka.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting, meskipun dalam keterbatasannya aku yakin putra bisa meraih citanya kelak. Tak lama lagi ibunya akan menyekolahkannya disekolah luar biasa, itu artinya Sang ibu sama sekali tak kehilangan harapan sedikitpun akan Putra. Tak masalah orang lain berkata apa yang jelas Putra harus mendapatkan pendidikan seperti anak lainnya, karena Sang ibu yakin bahwa ia tak sendirian, bersamanya dia selalu yakin bahwa ada Tuhan yang selalu menyediakan kebahagiaan untuknya, dan ia yakin bahwa hanya Tuhanlah yang bisa mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin.
Terakhir, hanya satu pesan yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini. Teruntuk  semua Ibu yang memiliki buah hati penyandang disabilitas, jangan bersedih, jangan putus asa, dan jangan pernah kehilangan harapan akan mereka. Dan untuk semua pihak yang mendapati kaum disabilitas disekelilingnya. Kita harus selalu tahu, bahwa mereka sama seperti kita. Butuh kasih sayang, butuh perhatian dari manusia disekelilingnya, dan  mereka pun butuh kebahagiaan dengan porsi yang sama seperti kita manusia normal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar