Kisah ini bermula ketika
saudara perempuanku mendapat hadiah dari Tuhan yang sangat luar biasa. Hal itu
karena ia tahu bahwa perutnya tak lagi kosong, didalam perutnya ada amanah
Tuhan yang harus ia jaga baik-baik dengan penuh keikhlasan, rasa syukur dan
tanggung jawab yang besar. Betapa bisa aku rasakan bahwa hal itu sangat membuat
ia bahagia. Bagaimana tidak, itu adalah pertanda bahwa Tuhan telah
mempercayainya untuk memegang amanah yang sangat berharga.
Hari demi hari berlalu.
Doa dan segala harapan pastinya masih senantiasa ia panjatkan kepada Sang
pemilik alam. Senyuman dan rasa bahagia masih terpancar jelas menghiasi
wajahnya, semua itu tak lain karena bayi yang ada dalam kandungannya.
Hari itu adalah hari yang
sangat membahagiakan bagi saudaraku, karena tepat pada hari itu adalah
pemeriksaan kandungannya yang pertama diusia enam bulan. Dengan wajah sangat
segar ia langkahkan kakinya bersama sang suami untuk pergi ke dokter kandungan.
Tak ada firasat apapun yang ia rasakan sebelum berangkat, yang ada hanya rasa
bahagia dimana untuk pertama kalinya ia memeriksakan janin yang ada didalam
perutnya ke rumah sakit.
Hancur. Ya, itulah satu
kata yang mungkin dirasakan oleh saudara perempuanku, tangisnya pecah tak
terbendung lagi saat ia mengetahui bahwa sang hero dalam perutnya harus secepatnya dikeluarkan. Semua itu karena
penyakit yang ada didalam tubuh saudaraku, yang tak memungkinkan jika sang bayi
terus berada dalam perutnya. Karena semua itu akan membahayakan kedua-duanya,
ibunya dan anaknya.
Proses persalinan pun
usai, bayi itu telah lahir kedunia walau dengan segala ketidak normalan yang
ada. Aku betul-betul tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu dan ayahnya,
tangisnya pecah seketika melihat keadaan sang buah hati. Tapi dalam matanya
masih sangat jelas terlihat betapa besar harapannya pada tuhan semoga kelak ia
bisa kuat dalam ketidak kuatannya, dan ia bisa sempurna dalam ketidak
sempurnaannya.
Hari demi haripun berlalu.
Tak terasa tahun demi tahunpun telah dilewati bersama bayi saudara perempuanku
yang ia beri nama putra. Tak tega. Ya, mungkin itulah dua kata yang sering aku
ucapkan dalam hati sembari berbisik pada tuhan, sebesar apakah dosanya hingga
ia harus menanggung beban seberat itu. Jujur, sering kali rasa malu
menghinggapi diriku saat aku bercermin padanya. Disaat ia yang memiliki ketidak
sempurnaan masih senantiasa melengkungkan bibirnya, aku masih sering tak
bersyukur atas segala anugerah yang telah Tuhan beri.
Sudah enam tahun lebih
Putra berada diatas dunia, tapi perkembangan fisiknya memang tak seperti anak
lainnya. Diusia enam tahun ini ia masih sulit untuk bicara, mengerti ini itupun
sepertinya sangat sulit. Tapi senyumnya tak pernah hilang menghiasi wajahnya,
hal itu yang sampai saat ini menjadi alasan bahwa dengan ketidak sempurnaan
fisiknya ia masih dapat membuat orang disekitarnya bahagia.
Akan tetapi, dibalik kisah
senyuman putra yang tiada henti menghiasi wajahnya. Kisah sedihnya pun tak usah
ditanya. Kadang disaat anak seusianya bermain dengan riang, dan
berteriak-teriak dengan penuh keramaian, yang bisa ia lakukan hanya melamun
melihat tawa mereka. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas sering kulihat
gurat kesedihan diwajahnya seperti mengisyaratkan bahwa ia bertanya-tanya
mengapa aku tidak sama seperti mereka.
Sudah bukan rahasia lagi
bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting, meskipun dalam keterbatasannya
aku yakin putra bisa meraih citanya kelak. Tak lama lagi ibunya akan
menyekolahkannya disekolah luar biasa, itu artinya Sang ibu sama sekali tak
kehilangan harapan sedikitpun akan Putra. Tak masalah orang lain berkata apa
yang jelas Putra harus mendapatkan pendidikan seperti anak lainnya, karena Sang
ibu yakin bahwa ia tak sendirian, bersamanya dia selalu yakin bahwa ada Tuhan
yang selalu menyediakan kebahagiaan untuknya, dan ia yakin bahwa hanya Tuhanlah
yang bisa mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin.
Terakhir, hanya satu pesan
yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini. Teruntuk semua Ibu yang memiliki buah hati penyandang
disabilitas, jangan bersedih, jangan putus asa, dan jangan pernah kehilangan
harapan akan mereka. Dan untuk semua pihak yang mendapati kaum disabilitas
disekelilingnya. Kita harus selalu tahu, bahwa mereka sama seperti kita. Butuh
kasih sayang, butuh perhatian dari manusia disekelilingnya, dan mereka pun butuh kebahagiaan dengan porsi
yang sama seperti kita manusia normal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar